“Minangkabau”
Dari Sabang sampai
Marauke, Berjajar pulau-pulau, Sambung-menyambung menjadi satu, Itulah Indonesia.
Indonesia
memiliki 33 provinsi. Salah satunya
adalah Sumatera Barat yang letaknya di pesisir Pulau Sumatera. Dengan ibu kota
yaitu, Padang. Motto dari kota ini adalah Padang Kota Tercinta.
Kota ini memiliki wilayah seluas
694,96 km² dengan kondisi geografis berbatasan dengan laut namun, memiliki
daerah perbukitan yang ketinggiannya mencapai 1.853 mdpl. Kota Padang memiliki garis
pantai sepanjang 84 km dan pulau kecil sebanyak 19 buah. Memiliki 11 kecamatan
dan desa/kelurahan yang berjumlah 104. Mayoritas masyarakat kota Padang menganut
agama islam.
Kota
yang lahir pada tanggal 7 Agustus 1669. Berarti
sudah 343 tahun kota ini berdiri. Sungguh, sebuah kota dengan usia yang
terbilang cukup mapan. Sejarah mencatat bahwa kota Padang lah yang dulunya
menjadi incaran bangsa colonial Belanda karena muaranya yang bagus dan udaranya
yang menyenangkan.
Dengan
matangnya sebuah kota, apakah telah menjamin kota tersebut menjadi kota yang
disegani?? Saya rasa “tidak”. Apalagi pada tanggal 30 september 2009 terjadi
bencana gempa bumi yang telah merusak 20% infrastruktur dari kota Padang
tersebut.
Bukan
hanya Jakarta yang punya tempo dolue tapi Padang juga punya bahkan tempo
dulunya kota Padang mengalami masa-masa keemasan. Pada masa colonial, masa awal
kemerdekaan dan masa prasejarah. Masa-masa itulah lahir tokoh-tokoh yang
terkenal yaitu Marah Roesli, Roestam Effendi, Azwar Anas, Bagindo Azizchan,
Awaludin Djamin, Muhammad Alwi Dahlan dan lain-lain.
Karena
saya lebih tau tentang sosok dari Marah Roesli maka saya akan menuliskan
sedikit tentang profil beliau.
Marah Roesli
Marah Roesli lahir di kota Padang,
17 Agustus 1889. Dia lahir pas hari kemerdekan RI tapi sayangnya, dia tidak
bisa merasakan kemerdekaan RI karena dia wafat 17 Januari 1968. Sebelum dia
wafat, dia terkenal sebagai salah satu penulis fiksi Indonesia dengan gaya
bahasa yang kuat.
Salah satu roman yang paling
terkenal, apalagi selalu masuk dalam pelajaran bahasa Indonesia dan diketehui
oleh semua orang yaitu “Siti Nurbaya”. Roman ini telah hadir di sekolah-sekolah
dan perpustakaan sejak pertama kali diterbitkannya yakni tahun 1920 oleh Balai
Pustaka. Memiliki tebal 271 halaman.
Isinya tentang kisah cinta antara
Siti Nurbaya dan Syamsul Bahri. Namun, orang tua Siti Nurbaya memilih
menikahkan anaknya denga Datuk Maringgih. Kini, nama Siti Nurbaya yang ada
dalam roman tersebut sebagai majas yang merujuk kepada bentuk “perkawinan
paksa”. Di kota Padang sendiri, sosok Siti Nurbaya dihadirkan nyata melalui
sebuah jembatan dan senuah makam diatas bukit yang diyakini adalah makam dari
Siti Nurbaya.
LEDENDA YANG MENASIONAL
Kota
Padang juga memiliki legenda yang terkenal yakni Legenda Malin Kundang. Legenda
tersubut sudah menjadi daya tarik bagi wisatawan local ataupun mancanegara
untuk mengunjungi kota Padang. Legenda itu telah menjadi salah satu asset yang
dimiliki pemerintah kota Padang dan masyarakat pada umumnya.
Legenda Malin Kundang serat akan
moral. Yaitu, janganlah sekali-kali anak durhaka pada orang tua, seberhasil
apapun si anak. Karena orang tua menjadi sosok terpenting atas keberhasilan
anaknya. Mungkin anak-anak zaman sekarang belum atau tidak tau tentang legenda
ini, disarankan untuk membaca diperpustakaan atau mencari di internet.
MAKANAN YANG GO INTERNASIONAL
Makanan yang populer di antaranya seperti Gulai, Rendang, Nasi Kapau, Sate Padang dan
Karupuk Sanjai. Restoran Padang atau Rumah
Makan Padang banyak
terdapat di seluruh kota besar di Indonesia. Meskipun begitu, yang dinamakan
sebagai "Masakan Padang" sebenarnya dikenal sebagai masakan etnis Minangkabau.
RENDANG
Rendang
adalah salah satu makanan yang berasal dari Sumatera Barat, yang merupakan
masakan tradisional khas kota Padang, Indonesia yang “Go Internasional”.
Setelah Rendang di nobatkan oleh CNN Internasional sebagai hidangan peringkat
pertama dalam daftar
World’s 50 Most Delicious Foods (50 Hidangan Terlezat di Dunia).
Masakan Rendang, yang bersantan ini
memiliki bahan utamanya daging sapi.
Dalam mendorong pariwisata di kota
Padang, pemerintah kota Padang menggelar
Festival Rendang untuk pertama kalinya pada tahun 2011. Festival Rendang yang dipusatkan di RuangTerbuka Hijau Imam
Bonjol ini diikuti oleh kelurahan se-Kota Padang dan berhasil memasak
5,2 ton daging, sehingga tercatat dalam Museum Rekor
Indonesia sebagai
perlombaan memasak dengan daging dan peserta terbanyak. Tidak salah kalau
Rendang menjadi kebanggaan Indonesia khususnya masyarakat Minangkabau
DENDENG BALADO
Dendeng Balado merupakan masakan khas yang berasal dari
Sumatera Barat, Indonesia yang bahan utamanya juga dari daging sapi yang di
iris tipis dan lebar. Kemudian daging ini dikeringkan, lalu digoreng hingga
kering. Selanjutnya Daging yang sudah digoreng ini kemudian dibumbui dengan
bumbu balado. Makanan ini juga identik dengan kota Padang.
GULAI BANAK
Gulai Banak adalah masakan berkuah santan dan pedas sebagai
ciri khas dari masakan yang berasal dari Sumatera Barat, Indonesia. Gulai Banak
ini berasal dari daerah Minangkabau. Bahan utama dari Gulai Banak ini adalah
otak sapi yang telah dipotong-potong. Untuk menambah nikmat, masyarakat
Minangkabau memberi irisan daun mangkok yang banyak. Hal ini katanya untuk
menambah cita rasa yang amat khas.
Tempat
– tempat yang menjadi daya tarik wisatawan
Masjid Raya
Ganting
Masjid
Raya Ganting atau yang dilafalkan Gantiang dalam bahasa Minangkabau adalah sebuah masjid yang terletak
di Kelurahan Ganting, Kecamatan
Padang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia.
Mulai dibangun
pada tahun 1805
dan selesai pada tahun 1810, masjid ini tercatat sebagai masjid
tertua di kota Padang dan
salah satu yang tertua di Indonesia serta telah menjadi cagar budaya. Secara spesifik Masjid Raya
Ganting memiliki luas berbentuk persegi panjang dengan panjang 42 meter dan
lebar 39 meter, terdapat juga 2 menara yang menambah kemegahan dari Masjid Raya
Ganting.
Perpaduan arsitektur dari berbagai
corak terlihat jelas pada bangunan masjid ini karena pengerjaannya melibatkan
beragam bangsa seperti Eropa, Timur Tengah, Cina, dan Minangkabau. Masjid ini
memiliki tatanan atap berupa atap
susun berundak-undak sebanyak lima tingkat dengan puncak berkubah berhiaskan
mustaka. Ada celah di tiap bagian atap untuk pencahayaan. Tingkat pertama
berbentuk persegi, sedangkan tingkat dua sampai empat berbentuk segidelapan.
MASJID RAYA PADANG
Masjid
Raya Padang yang berarsitektur
bangunan seni tradisioanl dari kota Padang. Hal ini terlihat pada bangunan yang
dijumpai bermacam gapura pada beberapa ruas jalan dengan ciri khas atap Gonjong. Gonjong ini merupakan salah
satu bagian simbol etnik, merepresentasikan makna filosofi Minangkabau yang dicerminkan ke dalam bentuk bangunan. Walaupun saat
ini telah terjadi pergeseran nilai budaya mengancam eksistensi nilai-nilai yang
masih asli, masyarakat Minangkabau pun merasa bahwa citra arsitektur mereka
cukup terwakili oleh atap gonjong saja.
Museum Adityawarman
Museum ini berada di Jalan.
Diponegoro, kurang lebih 1 km dari pusat kota Padang, Arsitektur museum ini
berbentuk bangunan khas Rumah Gadang Minangkabau, dan didepannya ada taman yang
cukup luas serta asri. Museum Adityawarman ini mengkhususkan pada sejarah dan
budaya suku Minangkabau, suku Mentawai dan suku Nias. Museum Adityawarman
memiliki 6.000 koleksi. Berbagai koleksi bersejarah, pakaian pengantin Minangkabau,
patung dan bermacam kerajinan tangan terdapat di Museum Adityawaraman ini.
Miniatur pedati dan bendi serta pesawat peninggalan perang dunia ke- 2
melengkapi pula keasrian taman yang ada di depan Museum Adityawarman tersebut.
Taman kota Padang
Sejak tahun 1995 Pemerintah Kota
Padang telah mulai mengembangkan Hutan
Kota termasuk Ruang Terbuka Hijau yang berfungsi meningkatkan
kualitas lingkungan hidup perkotaan yang nyaman dan indah, juga sebagai salah
satu sarana rekreasi terutama bagi warga kota Padang sendiri. Selain tetap
mempertahankan beberapa Ruang Terbuka Hijau yang telah ada seperti Ruang
Terbuka Hijau Imam Bonjol dan Ruang Terbuka Hijau Taman Melati. Pemerintah kota
Padang berencana membangun Hutan Kota pada kawasan Delta Malvinas yang berada
pada Batang Kuranji.
Stadion Agus Salim
Stadion Agus Salim dibangun sejak tahun 1957 dan
diresmikan pada tahun 1985. Stadion ini terletak di kawasan gelanggang olahraga
(GOR). Beberapa club utama sepak bola Sumatera Barat diantaranya PS Semen
Padang, PSP Padang dan Minangkabau FC bermarkas di stadion ini. Ketiga
kesebelasan ini menggunakan Stadion Agus Salim sebagai tempat untuk
pertandingan laga kandang.
MENJADI KOTA PENDIDIKAN
Kota
Padang sejak dari zaman colonial Belanda telah menjadi pusat pendidikan.
Tercatat pada tahun 1864, jumlah pelajar yang terdaftar di sekolah-sekolah yang ada
di kota Padang sebanyak 237 orang. Tentu di zaman sekarang jumlah itu terbilang
sedikit tapi pada masa colonial Belanda kesempatan untuk mengecap yang namanya
pendidikan bagi kaum pribumi sangatlah susah.
Pada masa
orde baru, mulailah berkembang pendidikan di kota Padang, predikat pun di raih
oleh ranah minang sebagai kota pendidikan yang disegani. Mulai tumbuh beberapa
perguruan tinggi yakni , universitas (9 buah), institut (2 buah), sekolah tinggi (16 buah), akademi (19 buah) dan politeknik (2 buah), di antaranya Universitas Andalas dan Politeknik Negeri
Padang yang
berlokasi di Limau Manis, Universitas Negeri
Padang
(sebelumnya bernama IKIP Padang) di Air Tawar, Institut
Agama Islam Negeri Imam Bonjol di Lubuk Lintah, Politeknik Kesehatan
Padang di Steba,
dan Akademi
Teknologi Industri Padang
di Tabing. Beberapa perguruan tinggi swasta juga berada di kota Padang, seperti
Universitas Bung
Hatta yang
terletak di pinggir pantai Ulak Karang, Institut Teknologi
Padang yang
terletak di Jalan. Gajah Mada, Universitas
Muhammadiyah Sumatera Barat
yang terletak di Pasir Jambak, Universitas Putra Indonesia “ YPTK” dan
Universitas Baiturrahmah.
Tidak hanya sebagai kota Pendidikan, kota Padang juga
mempunyai Perpustakaan Daerah Sumatera Barat terletak di kota Padang termasuk
salah satu perpustakaan terbaik di Indonesia, dengan jumlah koleksi yang
dimiliki mencapai 30.000 judul, termasuk fasilitas dan pengelolaan yang
maksimum, serta jumlah pengunjung pustaka yang tinggi. Setelah terjadinya gempa
bumi kegiatan Perpustakaan Daerah Sumatera Barat sejak 1 Februari 2010 untuk
sementara ini dipindahkan ke Tabing, menunggu pembangunan gedung baru yang
sebelumnya mengalami kerusakan yang parah.
Ada beberapa komentar tentang Kota Padang “Dahulu vs
Sekarang”.
·
Dahulu
anak saya yang pertama saya bela-belain untuk bersekolah di salah satu
perguruan tinggi di Kota Padang, karena saya meyakini Kota Padang waktu itu
sebagai pusat pendidikan di Sumatera. Sekarang? Anak saya yang bungsu lebih
memilih kuliah di Pekanbaru.
·
Setiap
hari, hampir satu orang mahasiswa swasta pindah ke kota asalnya semenjak
terjadinya gempa besar di Kota Padang tahun 2009 lalu.
KESEHATAN DI KOTA PADANG TIDAK KALAH
DENGAN KOTA BESAR.
Sebagai ibu kota provinsi Sumatera Barat, kota Padang telah
memiliki beberapa pusat fasilitas kesehatan yang cukup lengkap. Selain memiliki beberapa rumah sakit yang bertaraf nasional, rumah sakit tersebut juga telah
didukung oleh beberapa perguruan tinggi yang berkaitan dengan kesehatan. Salah
satunya adalah Rumah
Sakit Umum Dr. M. Djamil
yang berkerjasama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas dan Politeknik
Kesehatan Padang. Pemerintahan kota Padang juga telah memiliki rumah sakit yang
bernama Rumah
Sakit Umum Daerah Dr. Rasidin.
Untuk memberikan pelayanan yang maksimal, pemerintahan kota
Padang telah mendirikan sebanyak 20 buah puskesmas dan 58 buah puskesmas pembantu pada
wilayah kecamatan di kota Padang.
Jika ditinjau dari penyebaran, sarana kesehatan telah memadai.
Namun jika ditinjau dari aspek mutu pelayanan kesehatan masih jauh dari yang
diharapkan.Selain itu, di kota Padang terdapat rumah sakit yang dikelola oleh BUMN, Kepolisian, TNI
AD dan pihak swasta.
Rumah
Sakit Tentara Dr. Reksodiwiryo yang dikelola oleh TNI AD terletak pada kawasan cagar
budaya Ganting. Rumah sakit ini berdiri pada komplek bangunan peninggalan zaman
Belanda dan sebelumnya merupakan tempat peristirahatan para tentara kolonial.
Rumah
Sakit Selasih
merupakan rumah sakit swasta yang dikelola secara bersama dengan pihak Kumpulan
Perubatan Johor (KPJ) Sdn Bhd dari Malaysia, namun akibat gempa bumi 30 September 2009 rumah sakit ini mengalami kerusakan berat.
0 komentar:
Posting Komentar