Penulis yang terkenal
di zamannya masing-masing
1.
Andrea
Hirata
Andrea
Hirata Seman Said Harun (lahir di Belitung, 24 Oktober 1967, umur 46 tahun)
adalah novelis yang telah merevolusi sastra Indonesia. Ia berasal
dari Pulau
Belitung, provinsi Bangka Belitung. Novel pertamanya
adalah novel Laskar
Pelangi, novel sastra yang paling laris di Indonesia dari tahun
2006 sampai sekarang. Novel Laskar Pelangi merupakan novel yang diadaptasi
menjadi berbagai bentuk seni lainnya, seperti film, lagu-lagu, dan drama
musikal.
Andrea Hirata menghasilkan tetralogi
novel, yaitu :
Selain
Tetralogi laskar pelangi, Andrea juga menghasilkan karya lain, yaitu Padang Bulan & Cinta di Dalam
Gelas yang terbit tahun 2010. Sebelas Patriot (2011),
Laskar Pelangi Song Book (2012).
Meskipun studi
mayor yang diambil Andrea adalah ekonomi, ia amat menggemari sains--fisika,
kimia, biologi, astronomi dan sastra. Andrea lebih mengidentikkan dirinya
sebagai seorang akademisi dan backpacker. Sedang mengejar mimpinya yang lain
untuk tinggal di Kye Gompa, desa diHimalaya.
Andrea mendapat beasiswa program master
di Sheffield Hallam University, United Kingdom. Tesis Andrea
di bidang ekonomi telekomunikasi
mendapat penghargaan dari universitas tersebut dan ia lulus cum laude. Tesis itu
telah diadaptasikan ke dalam Bahasa Indonesia dan
merupakan buku teori ekonomi telekomunikasi pertama yang ditulis oleh orang Indonesia.
Buku itu telah beredar sebagai referensi Ilmiah.
Andrea Hirata telah menerbitkan delapan
karya yaitu Laskar Pelangi (2005), Sang Pemimpi (2006), Edensor (2007),
Maryamah Karpov (2008), Padang Bulan (2009), Cinta di Dalam Gelas (2009),
Sebelas Patriot (2010), dan Laskar Pelangi Song Book (2012). Laskar Pelangi
Song Book berisi kisah-kisah dari Negeri Laskar Pelangi (Belitong) dan
lagu-lagu karya Andrea Hirata yang dibawakan oleh Meda dan Cut Niken.
2.
Habiburrahman
EI Shirazy
Habiburrahman El Shirazy (lahir di Semarang, Jawa Tengah, 30
September 1976; umur 37 tahun) adalah Novelis No. 1 Indonesia (dinobatkan
oleh INSANI UNIVERSITAS DIPONEGORO (UNDIP) Semarang). Selain novelis, sarjana Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir ini juga dikenal sebagai sutradara, dai, dan penyair.
Karya-karyanya banyak diminati tak hanya di Indonesia, tapi juga di mancanegara seperti Malaysia, Singapura, Brunei,Hongkong, Taiwan dan Australia. Karya-karya fiksinya dinilai dapat membangun jiwa dan
menumbuhkan semangat berprestasi pembaca. Di antara karya-karyanya yang telah
beredar di pasaran adalah Ayat-Ayat Cinta (telah
dibuat versi filmnya, 2004), Di Atas Sajadah Cinta (telah disinetronkan Trans TV, 2004), Ketika Cinta Berbuah Surga (2005), Pudarnya Pesona Cleopatra (2005), Ketika Cinta Bertasbih (2007), Ketika Cinta Bertasbih 2
(Desember, 2007) Dalam Mihrab Cinta (2007), Bumi Cinta, (2010) dan The Romance. Kini sedang merampungkan Langit Makkah Berwarna Merah,Bidadari
Bermata Bening, dan Bulan
Madu di Yerussalem.
3.
Taufiq Ismail
Taufiq Ismail lahir dari
pasangan A. Gaffar Ismail (1911-1998) asal Banuhampu,
Agam dan
Sitti Nur Muhammad Nur (1914-1982) asal Pandai Sikek, Tanah Datar, Sumatera
Barat. Ayahnya
adalah seorang ulama dan pendiri PERMI. Ia menghabiskan masa SD di Solo, Semarang,
dan Yogyakarta,
SMP di Bukittinggi, dan SMA di Pekalongan.
Taufiq tumbuh dalam keluarga guru dan wartawan yang
suka membaca. Ia telah bercita-cita menjadi sastrawan sejak masih SMA. Dengan pilihan
sendiri, ia menjadi dokter hewan dan
ahli peternakan karena ingin memiliki bisnis peternakan guna menafkahi
cita-cita kesusastraannya. Ia tamat FKHP-UI Bogor pada 1963 tapi
gagal punya usaha ternak yang dulu direncanakannya di sebuah pulau
di Selat Malaka.
Ia menulis buku kumpulan puisi, sepertiMalu (Aku) Jadi
Orang Indonesia, Tirani dan Benteng, Tirani, Benteng, Buku Tamu
Musim Perjuangan, Sajak Ladang Jagung, Kenalkan,
Saya Hewan, Puisi-puisi Langit, Prahara
Budaya:Kilas Balik Ofensif Lekra/PKI dkk, Ketika
Kata Ketika Warna, Seulawah-Antologi
Sastra Aceh, dan lain-lain.
4.
Pramoedya
Ananta Toer
Pramoedya Ananta Toer (lahir di Blora, Jawa Tengah, 6
Februari 1925 – meninggal di Jakarta, 30
April 2006 pada umur 81 tahun), secara luas dianggap sebagai salah satu
pengarang yang produktif dalam sejarah sastra Indonesia. Pramoedya
telah menghasilkan lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 41
bahasa asing.
5.
Chairil Anwar
Chairil Anwar (lahir
di Medan, Sumatera Utara, 26 Juli 1922 – meninggal
di Jakarta, 28 April 1949 pada umur
26 tahun), dijuluki sebagai "Si Binatang Jalang" (dari
karyanya yang berjudul Aku), adalah penyair terkemuka Indonesia. Ia
diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi. Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan
oleh H.B.
Jassin sebagai pelopor Angkatan '45 sekaligus
puisi modern Indonesia.
Chairil lahir dan dibesarkan di Medan, sebelum pindah ke
Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya
pada tahun 1940, dimana ia
mulai menggeluti dunia sastra. Setelah mempublikasikan puisi pertamanya
pada tahun 1942, Chairil terus
menulis. Pusinya menyangkut berbagai tema, mulai dari pemberontakan, kematian,
individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak jarang multi-interpretasi.
6.
Sutan
Takdir Alisjahbana
Sutan
Takdir Alisjahbana (STA), (lahir di Natal,
Sumatera Utara, 11 Februari 1908 – meninggal
di Jakarta, 17 Juli 1994 pada umur 86
tahun) adalah seorang sastrawan dan ahli tata bahasa Indonesia.
7.
Marah Roesli
Marah Roesli atau
sering kali dieja Marah Rusli (lahir
di Padang, Sumatera Barat, 7 Agustus 1889 – meninggal
di Bandung, Jawa Barat, 17 Januari1968 pada umur
78 tahun) adalah sastrawan Indonesia angkatan Balai Pustaka.
Keterkenalannya karena karyanya Siti Nurbaya (roman) yang
diterbitkan pada tahun 1920 sangat
banyak dibicarakan orang, bahkan sampai kini. Siti Nurbaya telah
melegenda, wanita yang
dipaksa kawin oleh
orang tuanya, dengan lelaki yang tidak diinginkannya.
0 komentar:
Posting Komentar