Rabu, 04 Desember 2013 - 0 komentar

Ketaatan Anak

Ketaatanku
Kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang masa. Agaknya papatah itu sungguh tepat bagiku. Betapa tidak, aku merasa seberapa pun baktiku pada ibu, itu tak pernah cukup untuk membuat ibu bahagia. Paling tidak untuk mengembalikan senyuman yang sudah lama tak pernah aku nikmati.
Kerasnya hidup dan beban berat yang harus kami tanggung memaksanya untuk memaknai hidup ini dengan cemberut, bermuram durja dan selalu serius. Padahal, aku ingin melihat senyum ibu, sedikit saja, sedikit saja untuk menenangkan hatiku. Setidak-tidaknya senyum itu mampu membuat matahari ikut bergairah menyambut pagi, senyum itu mampu mencerahkan dunia, membuat dunia menjadi warna-warni, bunga-bunga bermekaran, ulat menjadi kupu-kupu dan menikmati kebebasannya dan berbagai bentuk keindahan alam lainnya.
Aku sama sekali tidak tahu apa yang ada di benak ibu. Apakah ada yang salah dengan sikapku. Apakah ada sikapku yang kurang berkenan padanya. Padahal, aku sudah berusaha untuk memenuhi segala keinginannya. Mematuhinya tanpa syarat seperti seorang musuh yang takluk pada penakluknya.
Sejujurnya, aku ingin mengatakan padanya, apakah ada sikapku yang salah? Tetapi, aku tak berani mengatakan itu. Tidak sopan rasanya berkata tentang sesuatu yang bisa jadi menyinggung parasaannya. Bagaimana ya, seandainya aku mengatakan, “ Ibu, mengapa kau tak pernah tersenyum?” maka aku akan dinasihati macam-macam, aku belum siap menerima guyuran air sejuk dari ibu, aku belum siap menjadi orang baik seutuhnya. J


0 komentar:

Posting Komentar