Ketaatanku
Kasih
anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang masa. Agaknya papatah itu sungguh
tepat bagiku. Betapa tidak, aku merasa seberapa pun baktiku pada ibu, itu tak
pernah cukup untuk membuat ibu bahagia. Paling tidak untuk mengembalikan
senyuman yang sudah lama tak pernah aku nikmati.
Kerasnya
hidup dan beban berat yang harus kami tanggung memaksanya untuk memaknai hidup
ini dengan cemberut, bermuram durja dan selalu serius. Padahal, aku ingin
melihat senyum ibu, sedikit saja, sedikit saja untuk menenangkan hatiku.
Setidak-tidaknya senyum itu mampu membuat matahari ikut bergairah menyambut
pagi, senyum itu mampu mencerahkan dunia, membuat dunia menjadi warna-warni,
bunga-bunga bermekaran, ulat menjadi kupu-kupu dan menikmati kebebasannya dan
berbagai bentuk keindahan alam lainnya.
Aku sama
sekali tidak tahu apa yang ada di benak ibu. Apakah ada yang salah dengan
sikapku. Apakah ada sikapku yang kurang berkenan padanya. Padahal, aku sudah
berusaha untuk memenuhi segala keinginannya. Mematuhinya tanpa syarat seperti
seorang musuh yang takluk pada penakluknya.
Sejujurnya,
aku ingin mengatakan padanya, apakah ada sikapku yang salah? Tetapi, aku tak
berani mengatakan itu. Tidak sopan rasanya berkata tentang sesuatu yang bisa
jadi menyinggung parasaannya. Bagaimana ya, seandainya aku mengatakan, “ Ibu,
mengapa kau tak pernah tersenyum?” maka aku akan dinasihati macam-macam, aku
belum siap menerima guyuran air sejuk dari ibu, aku belum siap menjadi orang
baik seutuhnya. J
0 komentar:
Posting Komentar